IMPOTENSI BUKAN AKHIR SEGALANYA
Monday, 22 September 2014 09:44

 

IMPOTENSI BUKAN AKHIR SEGALANYA

OBATI DENGAN TEPAT

Dr. Dandy Tanuwidjaja, SpU

            Bagi seorangpria, kejantanan secara seksual merupakan hal yang sangat penting.Hal tersebut membuat seorang pria bisa menjadi pria secara utuh, sebagaimana halnya kemampuan mempunyai keturunan bagi seorang wanita.Namun tidak jarang fungsi seksual pria ini menjadi terganggu, atau yang lebih dikenal awam dengan istilah impotensi.Impotensi atau disfungsi ereksi (DE) ini jika dibiarkan dapat mempengaruhi seorang pria dan pasangannya, terutama dari sisi psikis dan kualitas hidup.

            Angka kejadian DE ini sendiri cukup banyak.Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa  52%  pria berusia 40 – 70 tahun menderita DE. Di Asia, penelitian di Taiwan menemukan bahwa  29%  pria berusia di atas 40 tahun menderita DE.  Dari dua penelitian tersebut saja, dapat kita simpulkan bahwa 1-2 dari 3 pria berusia di atas 40 tahun menderita DE, suatu jumlah yang banyak jika dibandingkan kelainan/penyakit lainnya. Banyak pasien DE sering kali merasa malu untuk datang berobat kedokter, sebagian beranggapan bahwa kondisi tersebut tidak dapat diobati dan harus diterima sebagaimana takdir  yang telah ditentukan. Sebagian lagi memilih untuk berobat kepengobatan tradisional, yang keamanan dan efektivitasnya masih dipertanyakan.

            Apakah impotensi atau disfungsi ereksi itu? Disfungsi ereksi adalah ketidak mampuan menetap untuk mencapai dan mempertahankan ereksi penis yang diperlukan untuk hubungan seksual yang memuaskan kedua pihak.Dikatakan disfungsi ereksi jika gangguan tersebut telah berlangsung 3 bulan atau lebih. Hal ini perlu dipahami dan dibedakan dengan ejakulasi dini. Ejakulasi dini sendiri adalah ejakulasi yang terjadi terlalu dini dengan rangsangan minimal dan sulit dikontrol, sebelum atau sesudah penis masuk ke vagina, yang mana hal tersebut menimbulkan masalah bagi salah satu atau kedua pihak.

            Secara umum, penyebab DE dapat dibagi dua, yaitu penyebab organic dan psikogenik. Penyebab psikogenik adalah stress psikologis seseorang yang mengganggu proses ereksi, misalnya ada masalah dalam rumah tangga, masalah pekerjaan, sering bertengkar dengan pasangan, dan lain-lain. Pasien dengan DE psikogenik ini biasanya masih dapat ereksi normal pada saat tidur malam atau di pagi hari saat bangun tidur, hal ini tidak terjadi pada DE karena penyebab organik. Sedangkan penyebab organic adalah kondisi atau kelainan fisik yang terdapat pada seseorang, yang dapat menyebabkan DE. Terdapat beberapa factor risiko organik yang  menyebabkan seorang pria berisiko terkena DE, diantaranya : kegemukan, kurang olah raga, kencing manis, merokok, kelebihan kolesterol darah, riwayat trauma atau operasi daerah panggul dan kemaluan sebelumnya, penyakit prostat, obat-obatan, penyakit jantung, stroke, dan gangguan hormon. Faktor-faktor organic tersebut berpengaruh dan harus sedapat mungkin diatasi sebagai bagian dari tidak terpisahkan pengobatan DE.

            Pasien tidak perlu merasa malu untuk datang kedokter dengan masalah tersebut. Dokter, khususnya dokter spesialis urologi, sudah biasa dalam menangani kasus DE. Rahasia dan kenyamanan pasien akan selalu terjaga dan menjadi prioritas dokter yang menangani. Dalam mengobati DE, pertama - tama dokter akan memeriksa pasien secara lengkap menyeluruh. Jika terdapat factor - faktor risiko tersebut di atas, dokter akan menangani factor tersebut juga. Contohnya jika pasien dengan DE memiliki kencing manis, dokter juga akan menangani kencing manisnya tersebut, karena hasil pengobatan DE akan menjadi tidak maksimal tanpa pengobatan kencing manisnya.

            Pengobatan DE memiliki tiga tahapan. Tahap pertama atau lini terdepan pengobatan DE adalah dengan obat - obatan yang diminum, atau dengan alat vakum. Tahap kedua adalah dengan penyuntikkan obat - obatan, dan tahap ketiga adalah memalui operasi pemasangan “penis buatan”. Sebelum memberikan obat-obatan, dokter akan melakukan penyuluhan kepada pasien mengenai penyakit dan pengobatan yang akan dilakukan. Selain itu, dokter akan memastikan dulu apakah kondisi jantung pasien dalam keadaan baik. Hal ini penting dilakukan mengingat aktivitas fisik yang berlebihan, termasuk aktivitas seksual, sangat tidak dianjurkan bagi mereka yang memiliki gangguan jantung sedang-berat. Konsultasi kedokter spesialis jantung harus dilakukan sebelum DE diobati. Hasil pengobatan DE masa kini sudah baik. Sebagian besar pasien dapat memiliki kembali kemampuan ereksi yang dibutuhkanuntukhubunganseksual.Penelitianpadapasienkencingmanis, menemukan bahwa 60 - 70% pasien bisa mengalami ereksi dengan cukup baik setelah pemberian obat – obatan minum. Disamping pemberian obat, hal penting yang harus dilakukan pasien adalah merubah gaya hidup yang berisiko menyebabkan DE, seperti kurangnya olah raga dan merokok. Pasien harus berolah raga secara teratur dan berhenti merokok. Bagi pasien yang tidak berespon baik dengan obat – obatan minum, dokter akan melakukan evaluasi ulang,  dan selanjutnya akan memberikan pengobatan tahap dua atau tiga. Kembalinya kemampuan ereksi pasien tidak hanya mengembalikan rasa percaya diri, namun juga keharmonisan hubungan dengan pasangan dan perbaikan kualitas hidup.

            Demikian uraian singkat mengenai DE. Sebagai kesimpulan, DE adalah penyakit yang sangat mengganggu psikis dan kualitas hidup, namun pengobatan saat ini dapat dilakukan dengan aman dan memberikan hasil yang baik. Tidak ada alasan bagi pria dengan DE untuk tidak datang berobat kedokter, dan mendapatkan pengobatan yang terbaik tersebut.