News
Mengenal lebih dekat ilmu kedokteran Urologi
Monday, 22 September 2014 08:37

Mengenal lebih dekat ilmu kedokteran Urologi 

Dr. Dandy Tanuwidjaja, SpU

 

            Istilah “urologi” spertinya masih terasa asing di telinga masyarakat Indonesia, bahkan bagi sebagian tenaga kerja di bidang kesehatan. Secara umum, Urologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari dan menangani kelainan/penyakit pada sistem saluran kemih (termasuk ginjal, ureter, kantong kencing, uretra) pada pria dan wanita, dan sistem reproduksi pria (termasuk prostat, testis, dan saluran sperma). Selain itu, urologi juga mempelajari penanganan penyakit pada kelenjar anak ginjal, khususnya berkaitan dengan tumor pada organ tersebut.          

            Walaupun kadang masih terdengar asing di telinga, ilmu urologi sendiri sebenarnya sudah sangat lama menjadi bagian dalam sejarah manusia. Sesosok mumi Mesir, yang ditemukan pada tahun 4800 SM, diketahui menderita batu kantong kencing berukuran besar. Hippocrates, yang dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran, menyebutkan secara khusus tentang batu saluran kemih dalam sumpahnya yang terkenal itu. Dua dari tiga tindakan pembedahan tertua dalam sejarah manusia adalah tindakan pembedahan urologi, yaitu sirkumsisi / sunat dan pembedahan batu kantong kencing.

            Kasus-kasus yang ditangani dokter spesialis urologi sebenarnya banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, meliputi: batu, tumor, infeksi, trauma pada saluran kencing (seperti batu ginjal atau batu kantong kencing) dan organ reproduksi pria (penis, biji kemaluan, dan saluran air mani), termasuk juga pembesaran prostat.

Dalam penanganan kasus-kasus tersebut, seorang dokter spesialis urologi melakukan diagnosa dan tindakan terapi. Terapi yang diberikan dapat berupa obat-obatan atau tindakan pembedahan, tergantung masing-masing kasus. Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, tindakan pembedahan yang dilakukan dokter spesialis urologi berfokus pada tehnik pembedahan endoskopik / tanpa sayatan atau sayatan minimal.  Pada tehnik-tehnik ini, risiko operasi jauh lebih kecil dan dengan hasil yang optimal. Lama perawatan juga menjadi lebih singkat, dan pasien dapat beraktivitas lebih cepat.

Sebagai contoh, dapat dilihat pada tehnik pembedahan prostat. Pada jaman dahulu, operasi pengangkatan prostat yang membesar dilakukan dengan menggunakan pisau untuk menyayat dinding perut pasien. Pada saat ini, tindakan tersebut sudah jarang dilakukan. Dokter spesialis urologi menggunakan tehnik endoskopik, yang dikenal sebagai TURP (Transurethral Resection of the Prostate), untuk menghilangkan sumbatan saluran kencing akibat prostat yang membesar. Keuntungan tehnik ini meliputi tidak adanya bekas sayatan pisau (tanpa pisau), lebih aman, efektif untuk menghilangkan gangguan kencing, masa rawat yang lebih singkat, dan pasien dapat kembali beraktivitas lebih cepat.

Pengobatan batu saluran kencing saat ini pun sudah mengalami banyak kemajuan. Dahulu pengobatan batu saluran kencing dilakukan dengan pembedahan yang menggunakan pisau. Saat ini telah dikembangkan berbagai macam tehnik pembedahan tanpa sayatan atau dengan sayatan minimal. Tehnik pembedahan tanpa sayatan meliputi tehnik ESWL (Extra Corporeal Shock Wave Lithotripsy) dan endoskopik. Tehnik pembedahan dengan sayatan minimal meliputi PCNL (percutaneous nephrolithotripsy) dan laparoskopik. Dokter spesialis urologi akan menentukan tindakan mana yang terbaik untuk masing-masing pasien, tergantung pada letak, ukuran, komposisi, jumlah batu, dan kondisi medis lain yang menyertai. Pada tehnik ESWL, batu dipecahkan dengan menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh, tanpa adanya sayatan atau alat yang masuk ke dalam tubuh pasien.  Pada tehnik endoskopik (tanpa pisau) tindakan dilakukan dengan memasukkan alat melalui saluran kencing pasien untuk mencari dan menghancurkan batu. Alat tersebut dilengkapi dengan serat fiber optik dan penghancur batu. Metode ini memiliki keuntungan seperti :efektif, lebih aman, dan masa rawat yang lebih singkat. Pada tehnik sayatan minimal (PCNL atau laparoskopik) dokter spesialis urologi akan membuat sayatan kecil pada kulit, dan batu akan dikeluarkan atau dihancurkan. Dibanding tehnik pembedahan dengan sayatan konvensional, tehnik sayatan minimal juga memiliki keuntungan, seperti : efektif, aman, dan masa rawat yang lebih singkat.

Selain penyakit saluran kencing, dokter spesialis urologi juga menangani kasus-kasus gangguan sistem reproduksi, termasuk infertilitas (kemandulan) dan gangguan seksual (seperti impotensi/lemah syahwat dan ejakulasi dini) pada pria. Pengobatan yang diberikan dapat berupa obat-obatan atau tindakan pembedahan, tergantung masing-masing kasus. Pada kasus infertilitas, dokter spesialis urologi berperan mulai dari penegakkan diagnosa sampai dengan pengobatan, termasuk tindakan pembedahan khusus pengambilan sel sperma untuk keperluan tehnik bayi tabung. Penanganan impotensi dan ejakulasi dini juga dapat dilakukan dengan efektif dan aman.

Dengan semakin mudahnya akses masyarakat ke sarana kesehatan, khususnya pelayanan kedokteran urologi, diharapkan penanganan penyakit-penyakit saluran kencing dan sistem reproduksi pria dapat lebih baik. Masyarakat yang membutuhkan dapat langsung menghubungi dokter spesialis urologi terdekat.

 

 

 
Jangan biarkan Pembesaran Prostat Mengganggu Usia Indah Anda Atasi dengan Bijak dan Tepat
Monday, 22 September 2014 08:31

PEMBESARAN PROSTAT

Jangan biarkan Pembesaran Prostat Mengganggu Usia Indah Anda

Atasi dengan Bijak dan Tepat

Dr. Dandy Tanuwidjaja, SpU

 

            Istilah pembesaran prostat masih sedikit asing di masyarakat kita, dibandingkan penyakit lain seperti jantung koroner, stroke, atau kencing manis. Namun ternyata pembesaran prostat ini banyak dialami oleh pria, terutama pria di atas 50 tahun. Menurut data dari Asosiasi Urologi Eropa, sebanyak 40% pria di atas 50 tahun mengalami pembesaran prostat, angka ini meningkat menjadi 90% untuk pria di atas 90 tahun. Dengan kata lain 4 dari 10 pria di atas 50 tahun menderita pembesaran prostat. Hal ini tentu merupakan hal yang mengkhawatirkan, karena biasanya usia 50 tahun adalah saat dimana seorang pria seharusnya menikmati masa-masa indah memasuki masa pensiun.

            Prostat adalah kelenjar seksual aksesoris yang dimiliki setiap pria. Seiring dengan bertambahnya usia kelenjar prostat bisa membesar. Penting diketahui bahwa pembesaran prostat tersebut bisa jinak atau ganas (kanker prostat). Keduanya merupakan dua penyakit yang berbeda, dengan penanganan yang jauh berbeda. Kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai pembesaran prostat yang jinak.  Bagaimana pembesaran prostat jinak bisa terjadi? Penyebab pasti pembesaran prostat belum jelas. Berbagai teori telah berusaha menjelaskan penyebab pembesaran prostat ini, salah satu yang banyak dianut adalah teori androgen/testosterone dan teori sel embrional. Teori androgen menduga faktor hormonal sebagai penyebab pembesaran prostat.

            Pembesaran prostat dapat menimbulkan gejala yang sangat mengganggu kualitas hidup seseorang. Prostat yang membesar menyebabkan pancaran air kencing dari kandung kencing terhambat, sehingga gejala yang dirasakan oleh pasien biasanya adalah sulit buang air kecil (BAK). Gangguan buang air kecil ini meliputi : sering BAK, sering terbangun untuk BAK pada saat tidur (2 kali atau lebih), harus mengedan saat BAK, sulit memulai untuk BAK (seringkali pasien harus menunggu lama untuk air kencing bisa keluar), pancaran kencing yang lemah, BAK menetes, dan BAK yang tidak lampias. Dapat dibayangkan bagaimana mengganggunya gejala-gejala tersebut.

            Selain masalah BAK, jika dibiarkan pembesaran prostat juga dapat mengganggu organ lain, seperti: kandung kemih, ginjal, dan kejantanan. Pembesaran prostat jinak dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti: tidak bisa BAK sama sekali, batu kandung kemih, kencing berdarah, gangguan/kerusakan ginjal, dan infeksi saluran kemih. Kerusakan ginjal yang terjadi dapat bersifat menetap atau tidak bisa dikembalikan. Pembesaran prostat juga dapat disertai dengan hernia (turun bero) dan wasir, yang diakibatkan oleh seringnya mengedan saat BAK. Selain itu, dapat juga disertai impotensi. Jika anda mengalami gejala-gejala tersebut diatas, segera periksakan diri ke dokter spesialis Urologi untuk pengobatan lebih lanjut.

            Saat pasien datang dengan keluhan di atas, dokter spesialis urologi akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mendiagnosis dan mengobatinya, setelah terlebih dahulu menentukan apakah ada tanda-tanda keganasan prostat. Perlu diketahui juga bahwa tidak semua pembesaran prostat menimbulkan gejala, sebaliknya belum tentu gejala sulit BAK disebabkan oleh prostat yang membesar. Oleh sebab itu, pemeriksaan oleh dokter sangat penting untuk menentukan penyebab dan terapi terbaik. Pengobatan pembesaran prostat jinak disesuaikan dengan derajat keparahan, ada/tidaknya komplikasi yang menyertai, kelainan penyerta yang ada, sarana/alat yang tersedia, dan keinginan pasien. Pembedahan tidak selalu menjadi pilihan terapi. Pembesaran prostat jinak tanpa disertai komplikasi bisa diobati hanya dengan minum obat-obatan dan modifikasi gaya hidup saja. Jika ada keluhan lain seperti impotensi, dokter spesialis Urologi juga akan mengobati keluhan tersebut. Secara umum, tindakan pembedahan hanya dilakukan jika ada indikasi, yaitu jika sudah timbul komplikasi, gagal dengan obat-obatan, atau keinginan pasien sendiri.

            Seiring dengan kemajuan bidang kedokteran, tehnik pembedahan untuk prostat pun semakin maju. Dahulu dokter bedah harus melakukan sayatan pada kulit untuk mengambil prostat yang membesar. Operasi semacam ini menyebabkan trauma psikologis tersendiri bagi pasien, dikarenakan nyeri yang timbul, lama perawatan yang lama, adanya bekas sayatan, atau komplikasi pembedahan yang mungkin terjadi. Saat ini, sebagian besar pembedahan prostat dilakukan dengan tehnik endoskopik, yaitu : Transurethral Resection of the Prostate (TURP). Dengan tehnik ini dokter spesialis Urologi tidak menyayat kulit, setelah pasien dibius alat endoskopi dimasukkan melalui saluran kencing pasien dan prostat pun dikeluarkan. Keuntungan tehnik ini meliputi: tidak adanya bekas sayatan, masa rawat yang lebih singkat, tingkat komplikasi yang lebih rendah, dan nyeri yang lebih berkurang. Lama pembedahan kurang lebih 1 jam, dan biasanya pada hari ketiga atau keempat pasien sudah boleh pulang.   

            Akhir kata, masalah pembesaran prostat adalah masalah yang banyak dijumpai pada pria di atas 50 tahun dan mengganggu kualitas hidup jika tidak diobati. Pengobatan tidak selalu dilakukan dengan pembedahan. Sekalipun pembedahan harus dilakukan, tehnik tanpa sayatan seperti TURP dapat dilakukan dengan relatif aman, nyaman, dan efektif. 

 

 

Referensi

 

Roehrborn, CG. Benign prostatic hyperplasia, in Campbell Walsh Urology. Wein AJ, Kavoussi LR, et al. 10th ed. 2011.

Oelke M, Bachmann A, Descazeaud A. Male Lower Urinary Tract Syndrome incl Benign Prostatic Obsrtuction, in EAU Guidelines 2013.

 

 
TalkShow " Mempersiapkan Anak Bandung Juara"
Friday, 19 September 2014 11:32

 
Talkshow Radio Maestro 92.5 FM Bulan Agustus 2014 bersama dr. Rokihyati,Sp.PD
Thursday, 11 September 2014 12:11

 
Pelayanan Prima Dokter Kandungan RS.Immanuel
Thursday, 11 September 2014 11:47

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 7 of 30

RSImmanuel Reg

Registrasi Online
http://www.rsimmanuel.net

Pendaftaran melalui WhatsApp

0811-2472-626