News
Tingkatkan Kepedulian untuk Menjadi Keluarga Bijak,Keluarga Siap, Keluarga Berencana
Wednesday, 22 October 2014 10:47
APRESIASI RS.IMMANUEL TERHADAP KELUARGA YANG MENINGKATKAN KEPEDULIAN UNTUK MENJADI KELUARGA BIJAK, KELUARGA SIAP, KELUARGA BERENCANA.

"Terima Kasih atas kepercayaan seluruh pelanggan RS.Immanuel yang khusunya yang telah mempercayakan RS.immanuel untuk bisa membantu proses kelahiran putra putrinya". hal ini disampaikan oleh pihak Manajemen RS.Immanuel yang diwakili oleh Humas RS.Immanuel Sdr. Yoctaf Octora K, S.E. dalam rangka men-sosialisasikan perlunya perhatian dan kepedulian terhadap perkembangan dan pertumbuhan sang buah hati, sehingga seluruh keluarga menjadi KELUARGA SIAP, KELUARGA BIJA DAN KELUARGA BERENCANA.

Kegiatan ini Dipersembahkan oleh RS.Immanuel dan didukung oleh DETTOL

 
Opening Ruang Rawat Inap Nazareth
Thursday, 09 October 2014 07:32

 
Edukasi Jatuh dan Vitamin D oleh dr Vera, SpPD-KGer
Thursday, 25 September 2014 07:54

Jatuh  dan Vitamin D

dr Vera, SpPD-KGer

Senior Clinic RS Immanuel Bandung


 

         Jatuh merupakan penyebab terbanyak warga usia lanjut masuk rumah sakit, karena sering mengakibatkan trauma serius, seperti patah tulang panggul, perdarahan dalam tempurung kepala, bahkan kematian. Implikasi lain dari jatuh adalah timbulnya rasa takut jatuh dan hilangnya rasa percaya diri untuk berjalan sedemikian sehingga warga usia lanjut cenderung membatasi aktivitasnya sehari-hari. Pembatasan ini dapat menurunkan kemandirian dan memperburuk kualitas hidup warga usia lanjut. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan terjadinya jatuh pada warga usia lanjut.

Upaya pencegahan jatuh dilakukan dengan memperhatikan faktor risiko jatuh. Faktor risiko jatuh pada warga usia lanjut dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni: faktor intrinsik (dari dalam pasien) dan faktor ekstrinsik (dari luar pasien). Faktor intrinsik meliputi: penyakit yang diderita pasien, gangguan penglihatan, gangguan keseimbangan (pasca stroke, osteoarthritis lutut), kelemahan otot tungkai bawah. Faktor ekstrinsik meliputi: lingkungan (lantai licin, permukaan lantai tidak rata, penerangan ruangan tidak memadai), obat-obatan yang mempengaruhi keseimbangan (obat tidur), pemilihan alat bantu jalan yang keliru.

 Hipovitaminosis D (=kekurangan vitamin D) dapat meningkatkan risiko jatuh karena vitamin D diperlukan dalam kontraksi otot dan memelihara keseimbangan tubuh. Di samping jatuh berulang, gejala lain dari hipovitaminosis D adalah nyeri tulang (terutama rangka tulang dada, bahu, panggul, tulang punggung), nyeri otot, dan kelemahan otot tungkai bawah yang ditandai dengan kesulitan naik tangga. Vitamin D terutama diperoleh dari paparan sinar matahari, sebagian kecil diperoleh dari makanan seperti: produk susu olahan dan ikan. Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi penurunan aktivitas di luar rumah sehingga paparan sinar matahari berkurang. Selain itu, pada warga usia lanjut, terjadi penurunan daya serap kulit terhadap sinar ultraviolet.

***

 

 
IMPOTENSI BUKAN AKHIR SEGALANYA
Monday, 22 September 2014 09:44

 

IMPOTENSI BUKAN AKHIR SEGALANYA

OBATI DENGAN TEPAT

Dr. Dandy Tanuwidjaja, SpU

            Bagi seorangpria, kejantanan secara seksual merupakan hal yang sangat penting.Hal tersebut membuat seorang pria bisa menjadi pria secara utuh, sebagaimana halnya kemampuan mempunyai keturunan bagi seorang wanita.Namun tidak jarang fungsi seksual pria ini menjadi terganggu, atau yang lebih dikenal awam dengan istilah impotensi.Impotensi atau disfungsi ereksi (DE) ini jika dibiarkan dapat mempengaruhi seorang pria dan pasangannya, terutama dari sisi psikis dan kualitas hidup.

            Angka kejadian DE ini sendiri cukup banyak.Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa  52%  pria berusia 40 – 70 tahun menderita DE. Di Asia, penelitian di Taiwan menemukan bahwa  29%  pria berusia di atas 40 tahun menderita DE.  Dari dua penelitian tersebut saja, dapat kita simpulkan bahwa 1-2 dari 3 pria berusia di atas 40 tahun menderita DE, suatu jumlah yang banyak jika dibandingkan kelainan/penyakit lainnya. Banyak pasien DE sering kali merasa malu untuk datang berobat kedokter, sebagian beranggapan bahwa kondisi tersebut tidak dapat diobati dan harus diterima sebagaimana takdir  yang telah ditentukan. Sebagian lagi memilih untuk berobat kepengobatan tradisional, yang keamanan dan efektivitasnya masih dipertanyakan.

            Apakah impotensi atau disfungsi ereksi itu? Disfungsi ereksi adalah ketidak mampuan menetap untuk mencapai dan mempertahankan ereksi penis yang diperlukan untuk hubungan seksual yang memuaskan kedua pihak.Dikatakan disfungsi ereksi jika gangguan tersebut telah berlangsung 3 bulan atau lebih. Hal ini perlu dipahami dan dibedakan dengan ejakulasi dini. Ejakulasi dini sendiri adalah ejakulasi yang terjadi terlalu dini dengan rangsangan minimal dan sulit dikontrol, sebelum atau sesudah penis masuk ke vagina, yang mana hal tersebut menimbulkan masalah bagi salah satu atau kedua pihak.

            Secara umum, penyebab DE dapat dibagi dua, yaitu penyebab organic dan psikogenik. Penyebab psikogenik adalah stress psikologis seseorang yang mengganggu proses ereksi, misalnya ada masalah dalam rumah tangga, masalah pekerjaan, sering bertengkar dengan pasangan, dan lain-lain. Pasien dengan DE psikogenik ini biasanya masih dapat ereksi normal pada saat tidur malam atau di pagi hari saat bangun tidur, hal ini tidak terjadi pada DE karena penyebab organik. Sedangkan penyebab organic adalah kondisi atau kelainan fisik yang terdapat pada seseorang, yang dapat menyebabkan DE. Terdapat beberapa factor risiko organik yang  menyebabkan seorang pria berisiko terkena DE, diantaranya : kegemukan, kurang olah raga, kencing manis, merokok, kelebihan kolesterol darah, riwayat trauma atau operasi daerah panggul dan kemaluan sebelumnya, penyakit prostat, obat-obatan, penyakit jantung, stroke, dan gangguan hormon. Faktor-faktor organic tersebut berpengaruh dan harus sedapat mungkin diatasi sebagai bagian dari tidak terpisahkan pengobatan DE.

            Pasien tidak perlu merasa malu untuk datang kedokter dengan masalah tersebut. Dokter, khususnya dokter spesialis urologi, sudah biasa dalam menangani kasus DE. Rahasia dan kenyamanan pasien akan selalu terjaga dan menjadi prioritas dokter yang menangani. Dalam mengobati DE, pertama - tama dokter akan memeriksa pasien secara lengkap menyeluruh. Jika terdapat factor - faktor risiko tersebut di atas, dokter akan menangani factor tersebut juga. Contohnya jika pasien dengan DE memiliki kencing manis, dokter juga akan menangani kencing manisnya tersebut, karena hasil pengobatan DE akan menjadi tidak maksimal tanpa pengobatan kencing manisnya.

            Pengobatan DE memiliki tiga tahapan. Tahap pertama atau lini terdepan pengobatan DE adalah dengan obat - obatan yang diminum, atau dengan alat vakum. Tahap kedua adalah dengan penyuntikkan obat - obatan, dan tahap ketiga adalah memalui operasi pemasangan “penis buatan”. Sebelum memberikan obat-obatan, dokter akan melakukan penyuluhan kepada pasien mengenai penyakit dan pengobatan yang akan dilakukan. Selain itu, dokter akan memastikan dulu apakah kondisi jantung pasien dalam keadaan baik. Hal ini penting dilakukan mengingat aktivitas fisik yang berlebihan, termasuk aktivitas seksual, sangat tidak dianjurkan bagi mereka yang memiliki gangguan jantung sedang-berat. Konsultasi kedokter spesialis jantung harus dilakukan sebelum DE diobati. Hasil pengobatan DE masa kini sudah baik. Sebagian besar pasien dapat memiliki kembali kemampuan ereksi yang dibutuhkanuntukhubunganseksual.Penelitianpadapasienkencingmanis, menemukan bahwa 60 - 70% pasien bisa mengalami ereksi dengan cukup baik setelah pemberian obat – obatan minum. Disamping pemberian obat, hal penting yang harus dilakukan pasien adalah merubah gaya hidup yang berisiko menyebabkan DE, seperti kurangnya olah raga dan merokok. Pasien harus berolah raga secara teratur dan berhenti merokok. Bagi pasien yang tidak berespon baik dengan obat – obatan minum, dokter akan melakukan evaluasi ulang,  dan selanjutnya akan memberikan pengobatan tahap dua atau tiga. Kembalinya kemampuan ereksi pasien tidak hanya mengembalikan rasa percaya diri, namun juga keharmonisan hubungan dengan pasangan dan perbaikan kualitas hidup.

            Demikian uraian singkat mengenai DE. Sebagai kesimpulan, DE adalah penyakit yang sangat mengganggu psikis dan kualitas hidup, namun pengobatan saat ini dapat dilakukan dengan aman dan memberikan hasil yang baik. Tidak ada alasan bagi pria dengan DE untuk tidak datang berobat kedokter, dan mendapatkan pengobatan yang terbaik tersebut.

 
Mengenal lebih dekat ilmu kedokteran Urologi
Monday, 22 September 2014 08:37

Mengenal lebih dekat ilmu kedokteran Urologi 

Dr. Dandy Tanuwidjaja, SpU

 

            Istilah “urologi” spertinya masih terasa asing di telinga masyarakat Indonesia, bahkan bagi sebagian tenaga kerja di bidang kesehatan. Secara umum, Urologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari dan menangani kelainan/penyakit pada sistem saluran kemih (termasuk ginjal, ureter, kantong kencing, uretra) pada pria dan wanita, dan sistem reproduksi pria (termasuk prostat, testis, dan saluran sperma). Selain itu, urologi juga mempelajari penanganan penyakit pada kelenjar anak ginjal, khususnya berkaitan dengan tumor pada organ tersebut.          

            Walaupun kadang masih terdengar asing di telinga, ilmu urologi sendiri sebenarnya sudah sangat lama menjadi bagian dalam sejarah manusia. Sesosok mumi Mesir, yang ditemukan pada tahun 4800 SM, diketahui menderita batu kantong kencing berukuran besar. Hippocrates, yang dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran, menyebutkan secara khusus tentang batu saluran kemih dalam sumpahnya yang terkenal itu. Dua dari tiga tindakan pembedahan tertua dalam sejarah manusia adalah tindakan pembedahan urologi, yaitu sirkumsisi / sunat dan pembedahan batu kantong kencing.

            Kasus-kasus yang ditangani dokter spesialis urologi sebenarnya banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, meliputi: batu, tumor, infeksi, trauma pada saluran kencing (seperti batu ginjal atau batu kantong kencing) dan organ reproduksi pria (penis, biji kemaluan, dan saluran air mani), termasuk juga pembesaran prostat.

Dalam penanganan kasus-kasus tersebut, seorang dokter spesialis urologi melakukan diagnosa dan tindakan terapi. Terapi yang diberikan dapat berupa obat-obatan atau tindakan pembedahan, tergantung masing-masing kasus. Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, tindakan pembedahan yang dilakukan dokter spesialis urologi berfokus pada tehnik pembedahan endoskopik / tanpa sayatan atau sayatan minimal.  Pada tehnik-tehnik ini, risiko operasi jauh lebih kecil dan dengan hasil yang optimal. Lama perawatan juga menjadi lebih singkat, dan pasien dapat beraktivitas lebih cepat.

Sebagai contoh, dapat dilihat pada tehnik pembedahan prostat. Pada jaman dahulu, operasi pengangkatan prostat yang membesar dilakukan dengan menggunakan pisau untuk menyayat dinding perut pasien. Pada saat ini, tindakan tersebut sudah jarang dilakukan. Dokter spesialis urologi menggunakan tehnik endoskopik, yang dikenal sebagai TURP (Transurethral Resection of the Prostate), untuk menghilangkan sumbatan saluran kencing akibat prostat yang membesar. Keuntungan tehnik ini meliputi tidak adanya bekas sayatan pisau (tanpa pisau), lebih aman, efektif untuk menghilangkan gangguan kencing, masa rawat yang lebih singkat, dan pasien dapat kembali beraktivitas lebih cepat.

Pengobatan batu saluran kencing saat ini pun sudah mengalami banyak kemajuan. Dahulu pengobatan batu saluran kencing dilakukan dengan pembedahan yang menggunakan pisau. Saat ini telah dikembangkan berbagai macam tehnik pembedahan tanpa sayatan atau dengan sayatan minimal. Tehnik pembedahan tanpa sayatan meliputi tehnik ESWL (Extra Corporeal Shock Wave Lithotripsy) dan endoskopik. Tehnik pembedahan dengan sayatan minimal meliputi PCNL (percutaneous nephrolithotripsy) dan laparoskopik. Dokter spesialis urologi akan menentukan tindakan mana yang terbaik untuk masing-masing pasien, tergantung pada letak, ukuran, komposisi, jumlah batu, dan kondisi medis lain yang menyertai. Pada tehnik ESWL, batu dipecahkan dengan menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh, tanpa adanya sayatan atau alat yang masuk ke dalam tubuh pasien.  Pada tehnik endoskopik (tanpa pisau) tindakan dilakukan dengan memasukkan alat melalui saluran kencing pasien untuk mencari dan menghancurkan batu. Alat tersebut dilengkapi dengan serat fiber optik dan penghancur batu. Metode ini memiliki keuntungan seperti :efektif, lebih aman, dan masa rawat yang lebih singkat. Pada tehnik sayatan minimal (PCNL atau laparoskopik) dokter spesialis urologi akan membuat sayatan kecil pada kulit, dan batu akan dikeluarkan atau dihancurkan. Dibanding tehnik pembedahan dengan sayatan konvensional, tehnik sayatan minimal juga memiliki keuntungan, seperti : efektif, aman, dan masa rawat yang lebih singkat.

Selain penyakit saluran kencing, dokter spesialis urologi juga menangani kasus-kasus gangguan sistem reproduksi, termasuk infertilitas (kemandulan) dan gangguan seksual (seperti impotensi/lemah syahwat dan ejakulasi dini) pada pria. Pengobatan yang diberikan dapat berupa obat-obatan atau tindakan pembedahan, tergantung masing-masing kasus. Pada kasus infertilitas, dokter spesialis urologi berperan mulai dari penegakkan diagnosa sampai dengan pengobatan, termasuk tindakan pembedahan khusus pengambilan sel sperma untuk keperluan tehnik bayi tabung. Penanganan impotensi dan ejakulasi dini juga dapat dilakukan dengan efektif dan aman.

Dengan semakin mudahnya akses masyarakat ke sarana kesehatan, khususnya pelayanan kedokteran urologi, diharapkan penanganan penyakit-penyakit saluran kencing dan sistem reproduksi pria dapat lebih baik. Masyarakat yang membutuhkan dapat langsung menghubungi dokter spesialis urologi terdekat.

 

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 6 of 29